Cerita Fiksi ; Seseorang yang Mengalami Babyblues

Cerita Fiksi —Selasa, 16 Nov 2021 14:42
    Bagikan  
Cerita Fiksi ; Seseorang yang Mengalami Babyblues
image/pinterest

INIHOROR

Aku baru saja menjadi seorang Ibu. Aku melahirkan seorang bayi cantik dengan rambut yang indah. Betapa bahagianya aku melihat bayiku lahir ke dunia dengan usahaku. Tentu saja dengan dukungan keluarga dan suamiku.

Sebelum aku menikah, aku sudah memberi tahu suamiku tentang babyblues. Sebuah situasi dimana seorang ibu bisa sa berdelusi dan berhalusinasi yang bisa berakibat buruk untuk bayi maupun sang ibu. Suamiku setuju bahwa ia akan membantuku dalam mengurus bayi kami. Bukan kah memang seharusnya begitu?

Baca juga: Legenda Hantu Begu Juma dari Tanah Sumatera

Baca juga: Cerita Horor Rumah Sakit angker


Beberapa hari setelah bayi kami lahir, aku mengalami perubahan suasana hati yang amat sangat drastis. Terkadang aku merasa sangat bahagia melihat bayiku, lalu seketika aku menangis entah karena apa. Aku sedih karena bayiku sangat kecil atau aku menangis bahagia karena melihatnya dihadapanku? Entahlah aku tidak mengerti.

Siang itu aku sedang menyapu ruang tamu yang tidak jauh dari kamarku. Bayi ku baru saja terlelap beberapa menit lalu, aku mencoba membereskan rumah selagi bayiku tidur. Namun baru saja aku menyapu lantai, terdengar suara tangisan. Ku hampiri bayi mans itu, memberinya asi sesekali mengelus kepalanya dengan sayang walaupun aku sangat lelah hari itu. Suamiku belum pulang sejak 2 hari lalu. Dia memang sedang ada perjalanan dinas sehingga aku harus mengurus bayiku sendiri.

Tak berapa lama, bayi itu tertidur kembali. Aku baringkan ia di kasur lalu keluar lagi bernia untuk melanjutkan pekerjaan rumahku. Baru sekitar 10 menit, ia kembali menangis. Aku menghela napas, kemudian berjalan gontai ke kamar. Berniat memberikan asi, namun ia tetap menangis. Aku tidak mengerti harus apa. Ku telepon suamiku. “Halo? Ada apa?” tanyanya disebrang sana. “Bayi ini terus menangis, aku tidak tahu kenapa. Apa yang harus ku lakukan?” tanyaku sedikit panik. Ingin menangis saja rasanya. “Kau beri asi, lalu ia akan tertidur.” Aku menjelaskan bahwa aku sudah memberinya asi berkali-kali hari ini namun sekarang ia tetap menangis. Suamiku sepertinya sedikit kesal, ia menjawab dengan sedikit membentak. “Ya kau usahakanlah agar dia tidak menangis! Aku sedang sibuk, aku harus lanjut meeting.” Dengan itu telepon pun ditutup. Aku menangis sejadinya. Aku juga lelah dibiarkan sediri seperti ini.

Baca juga: Kisah Prabu Siliwangi dan Macan Putih

Baca juga: Kisah Seram Terowongan Casablanca

Ku tatap bayiku yang sedang menangis. “Kau tidak boleh menangis seperti ini! Kau bisa diam tidak!” Teriak ku pada bayi tak bersalah ini. “Ayah mu menyuruh mu untuk diam. Sekarang kau harus diam!”. Ku dekap tubuhnya erat, suara tangisanku menyatu dengan tangisnya. Dekapanku semakin erat. Ku biarkan wajahnya menyentuh hangat tubuhku. Beberapa menit kemudian, tangisannya berhenti, ku lepaskan dekapannku, dan ku tatap wajahnya. “Anak pintar.”

Aku tersenyum kemudian memberikan pesan singkat pada suamiku dengan senang. “Anak mu sudah tidak menangis sekarang. Tidak akan ada lagi suara tangisan yang membuat kita berdua pusing. Dia anak yang pintar karena patuh pada ucapanmu untuk diam selamanya.”/Reg. dilansir dari; demystery

Tulisan diatas belum dipastikan kebenarannya dan pembaca agar dapat mengambil hikmah dari semua kejadian, dimohon tidak mengikuti hal yang menyebabkan menyesatkan dan menimbulkan kerugian , semua tulisan diatas sekedar fiksi belaka.


Editor: Erica
    Bagikan  

Berita Terkait