Creepypasta: Hadiah Ulang Tahunku

Cerita Fiksi —Jumat, 24 Dec 2021 15:10
    Bagikan  
Creepypasta: Hadiah Ulang Tahunku
pinterest

INIHOROR.COM- Namaku Adinda. Aku berumur 9 tahun. Aku senang bermain tentu saja. Terkadang aku bemain hingga larut malam. Aku mempunyai teman baik yang selalu ada untukku. Namanya Andin. Katanya ia senang denganku karena nama kami sedikit memiliki kemiripan. Dia juga bercerita bahwa dia senang bermain denganku karena aku ceria. Terkadang kami bermain sampai tengah malam sehingga kini aku tidak bermain sendirian.

Sebentar lagi adalah hari ulangtahunku. Karena saat ini aku sedang bermain dengan Andin, aku berencana akan memberitahukannya bahwa aku akan mengadakan pesta kecil di rumah. “Lusa adalah hari ulang tahunku.” Ucapku sambil memainkan balok persegi.

Andin menatapku. “Benarkah? Apa yang kau inginkan untuk hadiah ulangtahunmu?”

Aku terdiam dan berpikir. “Sepertinya tidak ada. Lusa aku mengadakan pesta kecil disini. Kau harus datang ya!” Seru ku antusias yang membuatnya tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.

“Aku akan memberikanmu hadiah yang bagus. Aku yakin kau akan menyukainya.” Ucapnya seraya melanjutkan bermain balok.

Aku menganggukkan kepalaku. Semakin lebar senyumku setelah ia berkata demikian. Aku jadi tidak sabar menunggu hari ulangtahunku.

Baca juga: Legenda Danau Toba dan Jelmaan Ikan Mas

Hari itu tiba. Hari ulangtahunku yang ke 10. Tentang pesta kecil yang aku maksud adalah dimana aku, Ayah dan Ibuku berkumpul bersama. Menyaksikanku meniup lilin, memakan kue bersama sampai bermain bersamaku selama satu hari penuh. Tapi ada yang berbeda hari ini karena Andin berjanji akan datang merayakan ulantahunku bersama, juga dengan hadiahnya.

Andin menepati janjinya. Saat Ayah dan Ibuku sedang menyiapkan makanan. Aku tersenyum lalu menghampirinya dengan senang hati. Lalu ia memberikanku sebuah kotak kecil berisi minuman. “Ini apa?”

Ia tersenyum. “Minuman enak. Kau bermain denganku selamanya setelah menimum itu. Pasti sangat menyenangkan bukan?”

Aku mengangguk dengan antusias, lalu meminumnya. Setelah minuman itu habis, aku terheran karena merasakan tubuhku menjadi ringan. “Minumannya enak.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan karena setelah itu terdengar teriakan Ibu dari belakangku. Saat aku berbalik, aku melihat tubuhku sudah berbaring di lantai dengan Ibu yang terus menangis dan menggoyangkan tubuhku.

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku berbalik dan menatap Andin yang ternyum ke arahku. “Waktu itu kau pernah bilang ingin bermain denganku selamanya.”

Benar saja. Dia tidak main-main dengan ucapannya itu. Kini kita bisa bermain selamanya dan hanya dia yang bisa melihatku.

Tulisan diatas belum dipastikan kebenarannya dan pembaca agar dapat mengambil hikmah dari semua kejadian, dimohon tidak mengikuti hal yang menyebabkan menyesatkan dan menimbulkan kerugian , semua tulisan diatas sekedar fiksi belaka.

Baca juga: 7 Hari Hilang di Gunung Marapi, Bagian 4

\
Editor: Zizi
    Bagikan  

Berita Terkait