Creepypasta: Dua Pria Pendaki Gunung

Cerita Fiksi —Rabu, 29 Dec 2021 12:05
    Bagikan  
Creepypasta: Dua Pria Pendaki Gunung
pinterest

INIHOROR.COM- Malam itu, aku menginap dirumah Bibi Laura yang tinggal di lereng gunung.

Rumahnya sudah cukuo tua dengan lantai dan pintu juga pepohonan yang rimbun disekitarnya. Hal itu membuat sanak dan saudara enggan untuk berkunjung. Terkecuali aku, tentunya.

Sejak kecil, aku sudah dekat dengan Bibi Laura. Sebelum Paman John meninggal, ia berpesan untuk menjaga semua yang pernah Paman berikan pada Bibi. Dan salah satunya adalah rumah ini.

Bibi Laura sangat menyayangi Paman John. Itulah mengapa Bibi tidak mau ikut bahkan jika dibujuk oleh orang tuaku. Apapun yang ditawarkan tidak akan membuatnya goyah.

Malam ini hujan turun dengan derasnya. Aku tidak ingin menyalakan televise karena takut tersambar petir. Akhirnya aku menghabiskan waktu sebelum tidurku dengan berbincang dengan Bibi Laura.

Bibi memberikan aku susu coklat hangat, aku menerimanya sambil tersenyum. “Terimakasih Bibi” ucapku padanya.

Bibi balas tersenyum dan sedikit menengok ke jendela. Suasana dingin dan gelap diluar sana membuatku sedikit merinding.

“aku selalu teringat apa yan pernah terjadi padaku saat sedang seperti ini.” Bibi memulai percakapan sambil terus melihat keluar jendela.

“Ceritakan bi!” balasku yang penasaran.

“malam itu, sebulan yang lalu, ketika aku sedang merajut. Badai sedang turun, aku takut karena waktu itu aku sendirian.”

Baca juga: 14 Hari Hilang di Gunung Slamet, Bagian 1

“saat itu jam 11, setelah selesai merajut, aku pergi ke kamar. Namun niatku lenyap saat samar-samar aku mendengar suara ketukan di pintu depan..” sambung Bibi Laura sambil sedikit melihat kea rah pintu yang ada di sampingnya.

“Suaranya sangat halus, bahkan hamper tidak terdengar. Awalnya aku ingin mengacuhkannya karna aku piker itu hanya halusinasi saja. Tapi suara ketukan itu lebih besar terdengar setelah itu. Aku takut. Aku ingin mengabaikannya tapi niat ku hilang saat aku mendengar suara seseornag” lanjut Bibi.

“Apa yang dia katakan Bi? Suaranya seperti apa?” balasku yang semakin penasaran dengan cerita Bibi.

“Tolong kami.. apa ada seseorang disini? Kami hampir mati kami butuh pertolongan..” ucap Bibi menirukan suara itu..

“aku membuka pintu dan ada dua orang seperti pendaki yang terengah-engah, wajahnya pucat dan basah oleh air hujan. Kupikir aku harus menolong orang itu’

“mereka pendaki gunung disini, bi?” tanyaku.

“kelihatannya…” jawab Bibi. “Aku mempersilahkan mereka masuk lalu kubuatkan the hangat dan memberi mereka sepiring kue. Mereka terlihat pucat namun anehnya mereka sangat cepat sekali kering”

Aku mulai merinding..

“Mereka pun makan dan minum apa yang kuberi. Aku langsung bertanya tentang mereka. Namun mereka hanya menjawab dengan gelengan dan anggukan. Aku piker mereka lelah jadi aku pergi ke kamar untuk mengambilkan mereka bantal dan juga selimut. Tapi…”

“Tapia pa bi?!” tanyaku dengan penuh penasaran.

“Mereka tidak ada. Padahal aku pergi ke kamar tidak lebih dari 2 menit. Pintu luar terbuka dengan lebar, angina membuat pintu itu jadi berisik. Aku kaget saat itu. Aku lamgsung menutup pintu dan menguncinya dengan gembok. Aku mulai merinding. Aku melirik ke meja ruang tamu dan aku melihat secarik kertas kecil yang di selip di piring yang sudah kosong. “terimakasih makanan dan kebaikanya” begitu isi suratnya.

Baca juga: 7 Hari Hilang di Gunung Marapi, Bagian Akhir

Editor: Zizi
    Bagikan  

Berita Terkait