Cerita Horor, Penari Cantik yang Masih Menjadi Misteri

Cerita Horor —Senin, 15 Nov 2021 10:27
    Bagikan  
Cerita Horor, Penari Cantik yang Masih Menjadi Misteri
image/Pinterest

INIHOROR- Hai! Kali ini aku akan menceritakan kisah tentang sebuah komunitas menari mahasiswa di sebuah universitas. Komunitas ini memiliki banyak panggilan untuk mengisi acara baik formal maupun non-formal.

Sebagai sebuah komunitas tentu memiliki jadwal latihan yang rutin. Latihan rutin itu berlangsung di hari Rabu dan Jum’at di gedung Student Center (SC) universitasnya. Kegiatan latihan sendiri berlangsung sore hari sampai malam hari.

Malam itu, aku dan teman-temanku latihan seperti biasa. Menaiki tangga dari lantai dasar ke lantai 2. Tepat di depan tangga lantai 2 adalah tempat komunitas seni. Tempat itu memiliki banyak barang, tentu saja barang kesenian yang akan mereka pakai. Tapi satu barang yang selalu menjadi perhatianku. Bahkan ketika pertama kali aku menginjakkan kaki digedung ini, barang itu selalu membuatku berhenti sejenak. Lukisan seorang penari Bali.

Baca juga: Kisah Mistis Main Petak Umpet

Baca juga: Goa Siluman Yogyakarta, Petilasan Pembuang Sial di Pesanggrahan Wonocatur


Jika dilihat sekilas, tidak ada yang aneh dengan lukisan tersebut. Hanya lukisan penari Bali biasa. Namun tidak denganku. Setiap aku melewati lorong itu, aku selalu bertukar pandangan dengan sang penari. Dengan matanya yang bulat, ia menatapku. ku biarkan berlalu begitu saja. “mungkin karena baru pertama kali melihatku” pikirku saat itu.

Tapi ternyata tidak. Sudah 3 tahun aku belajar disini. Selama 3 tahun itu pula sang penari menatapku setia aku melewati lorong itu. Tidak mengeluarkan satu kata pun. Ia haya terdiam, menatapku yang berjalan dari ujung lorong ke lorong lainnya.

Malam ini aku dan teman-temanku sedang latihan untuk acara dikeesokan harinya. Seperti biasa, jika sudah H-1 acara, maka kita harus mencocokkan kostum tari yang akan digunakan. Mulai dari baju sampai hiasan kepala. Semua disiapkan dalam 1 ruangan. Malam itu kami memang sedikit heboh dan berisik lantaran senang dengan kostum baru yang akan kami pakai besok. Satu per-satu dari kita mecoba dan mencocokkan ukuran baju dan rok yang akan dipakai. Semuanya sudah rapi, lengkap, dibereskan oleh masing-masing dari kami. Disusun rapi di atas meja di pojok ruangan.
,
Kami selesai pukul 11 malam. Karena aku merasa butuh istirahat lebih, aku memilih untuk pulang duluan, yang lain masih berbincang tentang banyak hal diluar latihan yang telah usai. Malam itu aku berjalan sendiri. Melewati kelas-kelas yang sudah tidak bercahaya. Entah kenapa malam itu aku ingin berbelok ke kanan, ke arah jalan gelap yang kemudian akan melewati pohon caringin yang rindang. Jalan itu diapit oleh 2 gedung ruangan kelas, yang sudah gelap tentu saja. Tapi aku tetap ingin melewati jalan itu. Saat akan berbelok, tiba-tiba angin berhembus kencang, membuat dedaunan yang jatuh berantakan. Aku sedikit terkejut namun tetap ku lanjutkan jalanku. Tidak ada siapapun. Saat hampir sampai pada belokan selanjutnya. Tiba-tiba kaca jendela kelas diketuk dengan kencang dari ujung ke ujung. Seperti ada orang berlari dan mengetuk kaca itu. *tuk tuk tuk tuk* aku terdiam. Melihat ke sekitarku. Masih tidak ada orang. Ku lanjutkan jalanku. Tepat di depan sama ada pohon caringin yang berdiri gagah. Jantungku semakin kencang berdetak. Sedikit tidak yakin untuk melewati pohon itu, namun tetap ku lanjutkan. “tidak akan ada apa-apa” ku yakinkan diri dalam hatiku. Tepat saat aku lewati pohon itu, suara tertawa melengking terdengar jelas. Aku terkejut, kemudian berlari. Aku coba berlari sekuat tenaga karena suara itu mengikutiku. Akhirnya aku sampai di depan rumahku. Aku masuk terburu-buru. Mengunci pintu. Mencoba mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantungku. Untung saja dia tidak mengikutiku ke dalam.

Baca juga: Cerita Fiksi; Daging Manusia

Baca juga: Misteri Ribuan Boneka yang ada di Pulau Meksiko

Keesokan harinya, aku dan teman-temanku harus sudah berada di ruang latihan pukul 5. Ada yang aneh saat aku berjalan menuju ruang latihan. Lukisan yang selalu menatapku, kali ini bergeming. Ku biarkan saja karena aku harus segera menerapkan riasan wajahku pagi ini. Saat aku memasuki ruangan latihan. Terlihat teman-temanku tengah berbincang. Sedikit terlihat panik. Ada yang tidak beres. “kenapa?” tanyaku. Sontak mereka semua menatapku yang masih berdiri di daun pintu. “selendangnya ilang satu” jawab salah satu temanku. “sudah dicari lagi? Siapa tau nyangkut” ucapku. Temanku mengangguk “dimana-mana gak ada. Kan harusnya satu bundel semuanya. Kemarin kan sudah pas”. Benar juga. Harusnya semuanya pas. “punya siapa yang hilang?” kembali ku bertanya. “punya kamu” jawabnya. Aku terdiam. Berfikir sebentar, karena kemarin semua sudah lengkap, aku sudah memeriksanya berulang kali. “aku ke bawah sebentar, mau beli minum” ucapku. Bohong. Aku ingin menemui sang penari. Berdiri aku diruangan seni, di depan lukisan itu. Dia berdiri disana, ternyum manis. Berpakaian lengkap dengan kain batik sebagai rok, kemben, juga selendang merah yang cantik melingkar dibahu terbukanya. Selendangku./Reg.

Tulisan diatas belum dipastikan kebenarannya dan pembaca agar dapat mengambil hikmah dari semua kejadian , dimohon tidak mengikuti hal yang menyebabkan menyesatkan dan menimbulkan kerugian , semua tulisan diatas sekedar fiksi belaka. dilansir dari; demystery


Editor: Erica
    Bagikan  

Berita Terkait