14 Hari Hilang di Gunung Slamet, Bagian 1

Cerita Horor —Rabu, 29 Dec 2021 09:32
    Bagikan  
14 Hari Hilang di Gunung Slamet, Bagian 1
Alex dan Gagah/twitter

INIHOROR.COM- Saat itu adalah tahun 1985. Pendakian gunung bukanlah suatu hal yang lazim dilakukan pada tahun itu. Pendakian gunung pada zaman itu masih dianggap kegiatan illegal.

Pendakian gunung ini dilakukan oleh 3 orang sahabat yang merupakan mahasiswa IKIP Semarang. Atau sekarang lebih akrab disebut UNNES.

Ketiga sahabat itu adalah Poedji Winarto atau biasa dipanggil Alex. Lalu ada Iqbal Latief dan yang ketiga adalah Gagah Pribadi.

Diantara yang lain, Alex adalah yang paling keras dan berpengalaman. Alex adalah mahasiswa juruan Bahasa dan Sastra Inggris. Iqbal dan Alex satu juruan. Karena satu jurusan dan satu kelas mereka jadi lebih dekat. Namun, hobi mendaki membuat mereka semakin menyatu dalam beberapa perjalanan bersama.

Iqbal juga berpengalaman dan memiliki sifat yang bijaksana yang sifatnya berbeda jauh dari sahabatnya, Alex. Sedangkan Gagah merupakan mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia dan tergabung dengan organisasi Mapala di jurusannya.

Baca juga: 7 Hari Hilang di Gunung Marapi, Bagian Akhir

Mapala jurusan Gagah sangat jarang mengadakan acara pendakian gunung dan lebih sering melakukan latihan fiik dengan memanjat pohon. Membuat Alex yang pentolan dari komunitas pendaki mengejek organisasi Mapala itu.

Tidak disangka, ejekan itu mengenai Gagah yang sudah sangat ingin merasakan sensasi pendakian di gunung yang selama ini ia idamkan.

Setelah menunggu selama 1 semester, Gagah akhirnya memberanikan diri untuk bergabung dengan komunitas Alex dan keluar dari organisasi mapala jurusannya. Walaupun ia semat di cap sebagai anak mami karena semua yang Gagah ingin selalu dibelikan keluarganya dan fisiknya tidak sekuat Alex dan Iqbal.

Tekad Gagah tetap kuat dan kemauannya untuk berlatih fisik akhirnya mengantarkan pendakian bersama Alex.

Cerita ini dimulai saat ketiga sahabat ini berencana untuk mendai Gunung Slamet pertama kalinya dengan menlewati jalur Bambangan.

Mereka bertiga tiba di Serang, Purbalingga. Dan melanjutkan berjalan kaki menuju Desa Bambangan. Perjalanan melalui jalan tapak berlumpur yang masih sangat minim pemukiman penduduk dan akses jalan yang belum baik. Akhirnya, mereka bertiga tiba di Bambangan menjelang maghrib.

Baca juga: Misteri dan Wujud Asli dari Sundel Bolong

Kala itu, ketiganya mendaki gunung Slamet dengan status pendaki liar. Karena pada zaman itu, untuk mendapat akses dan izin mendaki gunung memang sangat sulit. Berbeda dengan sekarang.

Alex dan kedua sahabatnya hanya meminta izin kepada penduduk sekitar dan melapor ke petugas perhutani di Serang. Ketika memasuki Desa Bambangan, merek bertiga bertemu dengan rombongan pendaki lain yang berasal dar Club UPL (Unit Pandu Lingkungan) Universitas Jenderal Sodirman. Mereka pun bertegur sapa.

Mereka pun terlibat sedikit obrolan dan sempat membahas tentang kasus meninggalnya seorang pendaki di Gunung Slamet satu minggu lalu akibat hipotermia dan nama korbannya adalah Hartoyo.

Gunung Slamet memang dikenal cukup berbahaya dengan bagian batas vegetasi yang curam dengan bebatuan karang yang tajam dan udara dingin di puncaknya yang bisa mencapai dibawah 0 derajat celcius. Hal ini membuat Gunung Slamet adalah salah satu gunung yang beresiko tinggi untuk dilakuakn pendakian.

Selepas sholat isya, Alex, Iqbal dan Gagah memulai pendakiannya ke Gunung Slamet. Saat itu, Pos 1 Terletak di Samarantu. Jarak Samarantu yang cukup jauh ditambah dengan hujan gerimis mengguyur jalur pendakian kala itu membuat ketiganya terasa sangat berat dan terjal. Beruntung, Alex memiliki pengalaman mendaki gunung yang baik membuat mereka bisa meneruskan perjalanan ditengah hutan belantara yang lebat itu….

Bersambung…

Baca juga: Kutukan dibalik Indahnya Hope Diamond

Editor: Zizi
    Bagikan  

Berita Terkait