14 Hari Hilang di Gunung Slamet, Bagian 3

Cerita Horor —Jumat, 31 Dec 2021 09:40
    Bagikan  
14 Hari Hilang di Gunung Slamet, Bagian 3
Alex dan Gagah/twitter

INIHOROR.COM- Tapi siapa sangka, 2 bangunan berbentuk cungkup makam itu sepertinya adalah sebuah tanda awal sesuatu yang buruk akan terjadi kedepannya…

Ketika sedang menunggu, rombongan UPL Unsoed yang tadi bertemu dibawah menyusul mereka. Melihat rombongan ini lewat, Iqbal bertanya pada rombongan tersebut.

“Pos 1 nya masih jauh toh mas?” Tanya Iqbal.

“Sudah dekat mas. Ini juga sudah area Samarantu” jawab salah satunya.

Setelah mendengar itu, Alex akhirnya menyetujui melanjutkan perjalanan mereka.

Benar saja, berjarak 100m dari sana, akhirnya mereka menerukan pos Samarantu yang sebenarnya. Sebuah gubuh sederhana yang bertuliskan “POS 1 SAMARANTU” disana ternyata ada rombongan Unsoed yang sedang beristirahat.

Baca juga: Kuntilanak Merah dan Mitos Lain di Terowongan Casablanca

“Loh, kok berhenti toh mas?” Tanya Alex.

“Iya mas, ini ada anggota cewek yang kram perut. Kalau ga sembuh-sembuh, kita nunggu pagi aja terus turun.” Jawabnya.

“oke baik mas, kita lanjut duluan keatas ya.” Jawab Alex sambil berpamitan.

“Iya mas. Nanti kalua dia sembuh, kita ketemu di puncak kok!” jawabnya lagi.

Alex dan Iqbal melanjutkan perjalanan dan meninggalkan rombongan UPL Unsoed tadi di pos Samarantu. Ketiganya mengincar matahari terbit di puncak gunung sehingga perjalanan harus dikejar sebelum kelewatan momen tersebut.

Keadaan Gagah juga sudah mulai membaik saat itu. Sehimgga perjalanan jadi lebih lancer. Saying etika matahari terbit, mereka bertiga beum mencapai puncak. Saat matahari terbit, mereka baru tiba di batas vegetasi Plawangan.

Kondisi di jalur ini masih “abu-abu”. Selain karena jumlah pendaki gunung slamet yang minim, jalur yang dilalui juga hanya ditandai dengan batu-batu yang di cat putih setiap beberapa meter sebagai tanda arah ke puncak.

Singkat cerita, ketiganya berhasil sampai di puncak mengikuti tanda. Disini mereka merasakan apa yang membuat Hartoyo meninggal di puncak seminggu yang lalu, yaitu suhu udra yang amat sangat dirin dan membeku.

Baca juga: Creepypasta: Kini Kamu Melihatku

Untuk menghindari rasa dingin, mereka tidak boleh diam, mereka harus menggerakan tubuh mereka agar tetap hangat. Sebentar saja diam, badan mereka akan menjadi kaku.

Suhu yang sangat rendah juga menyulitkan mereka untuk makan. Jika mulut menganga terlalu lama, maka rahang mereka akan sulit untuk mengatup dan sebaliknya saat mereka tutup mulut, bibir dan mulutnya akan membeku dan sulit dibuka.

Mereka harus memakan daging kentang rebus ang mereka bawa sebagai bekal di puncak Slamet dengan bantuan tangan. Mereka menarik dan dorong rahang mereka sendiri agar bisa mengunyah kentang-ketang itu.

Setelah makan dan mengambil beberapa dokumentasi foto, ketiganya sepakat untuk segera turun mengingat kondisi yang berbahay itu. Apalagi di puncak saat ini hanya ada mereka. Karena mahasiswa Unsoed sepertinya tidak melanjutkan perjalanan keatas.

Baru saja turun, tiba-tiba kabut tebal datang. Kabut tertebal yang pernah Alex lihat. Saking tebalya kabut itu, membuat cahaya matahari benar-benar tertutup.

Alex yang memimpin jalan menyenter kearah depan, cahaya senter tersebut seperti bertemu dinding putih. Senter yang ia bawa tidak bisa menembus kabut tebal itu lebih dari 2 meter.

Akibatnya, ketiganya kehlabgan orientasi jalur pendakian karena sulitnya menemukan susunan batu berwarna putih di kawasan batas vegetasi. Meraba dalam kabut, mereka mencoba percaya dengan insting mereka…

Bersambung..

Baca juga: 14 Hari Hilang di Gunung Slamet, Bagian 2

Editor: Zizi
    Bagikan  

Berita Terkait