Telusuri, Kemistisan Desa Trunyan di Bali Pemakaman Unik yang Dikenal dengan Kubur Angin

Keramat —Sabtu, 2 Oct 2021 16:13
    Bagikan  
Telusuri, Kemistisan Desa Trunyan di Bali Pemakaman Unik yang Dikenal dengan Kubur Angin
Telusuri, Kemistisan Desa Trunyan di Bali Pemakaman Unik yang Dikenal dengan Kubur Angin/pinterest

BALI, INIHOROR

Bali adalah sebuah pulau kecil di Indonesia yang besar akan keragaman tradisi dan wisata alamnya, untuk panorama alam Bali siapapun yang pernah berkunjung kesana pasti akan menyebut nya bak surga dunia.

Namun tidak hanya panorma alam yang memukau Indah, Bali juga dikenal kental dengan tradisi yang turun temurun yang tetap terjaga sampai sekarang ini.

Jika anda berkujung ke Kintamani di Pulau Bali, alangkah sayang bila kita tidak sekalian mampir ke Desa Trunyan, Bali. Pasalnya, lokasi ini merupakan salah satu desa adat sekaligus desa tertua di Pulau Dewata. Berlokasi di tepi timur Danau Batur, untuk menuju lokasi desa ini kita harus menggunakan perahu menyusuri lereng Bukit Abang, di tepi Danau Batur sekitar 45 menit.

Ada satu adat yang wajib anda ketahui bahwa disana Mayat tidak kubur atau dibakar melalui ritual Ngaben seperti umumnya masyarakat di Pulau Bali.
Di sini mayat sengaja dibiarkan membusuk di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang di bawah udara terbuka.

Baca juga: Kisah Mistis, Mitos Gamelan Ringkuh Geni Pemanggil Arwah

Baca juga: Kupas Tuntas Mitos Malam 1 Suro, Pestanya Para Mahluk Halus Tak Kasat Mata

Mungkin untuk sebagian orang akan terlihat tidak lazim namun di sana sudah menjadi tradisi dari para leluhur , tradisi ini bisa disebut juga dengan Mepasah atau "Kubur Angin".

asal usul penguburan ala Mepasah ini, konon juga bermula dari perintah Ratu Sakti Pancering Jagat saat masih menjadi raja di Trunyan dahulu. Sengaja diniatkan untuk mengurangi dampak harum pohon taru menyan yang menyebar ke mana-mana. Konon, dari keberadaan nama pohon taru menyan ini pulalah nama Desa Truyan berasal.

Menariknya, adanya perbedaan teknik penguburan tersebut bersumber dari adanya perbedaan kategori umur, status, cara kematian, dan kondisi jasad saat warga Trunyan meninggal. Mereka yang di-mepasah-kan ialah orang-orang yang saat meninggal telah berstatus berumah tangga, atau masih bujangan (teruna), perawan (debunga), dan anak kecil yang telah tanggal gigi susunya (mekutus). Selain itu, proses kematian orang-orang ini juga dianggap normal atau wajar, entah karena sakit biasa atau usia tua.

Baca juga: Kisah Misteri, Desa Gondo Mayit Kampung Hantu yang Meminta Nyawa

Baca juga: Mengulik Misteri Mariaban, Binatang Siluman dan Bulu Perindu Berkekuatan Magis

Sedangkan yang dikebumikan ialah mereka yang saat meninggal jasadnya rusak, cacat, terdapat luka yang belum sembuh karena sakit tertentu seperti sakit cacar atau lepra. Selain itu, juga bagi orang-orang yang proses kematiannya dianggap tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri.

Harus di ketahui juga di Desa Trunyan terdapat tiga kategori pemakaman: yaitu Sema Wayah, Sema Nguda, dan Sema Bantas. Pada lokasi Sema Wayah, tempat ini dikhususkan bagi orang-orang yang termasuk pada kategori kubur angin atau Mepasah. Berada di sebelah utara desa induk, Belongan Trunyan, naik sampan kecil dibutuhkan waktu sepuluh menit menuju lokasi pemakaman Sema Wayah.

Baca juga: Mengulik Misteri Mariaban, Binatang Siluman dan Bulu Perindu Berkekuatan Magis

Baca juga: Bikin Merinding, Kesaksian Pendaki yang Hilang di Gunung Abbo

Yang uniknya tempat pemakaman di Sema Wayah hanya terdiri dari tujuh petak saja. Artinya, setiap ada penduduk Trunyan meninggal dan hendak dimakamkan secara kubur angin, maka akan dipilihlah petak yang jenazahnya sudah paling lama diletakkan di sana. Setelah dilakukan sembahyang untuk memohon izin kepada penghuni lama, dan semua tulang-belulang penghuni lama telah disingkirkan ke samping di luar petak, maka barulah jenazah baru itu akan ditempatkan di petak kosong tersebut.


Sedangkan di lokasi Sema Bantas, tempat ini dipergunakan bagi orang-orang yang pemakamannya dilakukan dengan cara kubur tanah. Awalnya lokasinya terletak di perbatasan Belongan Cimelandung dan Desa Abang. Namun dalam perkembangan kemudian kompleks pemakaman ini diperluas ke Tempek Puseh, tepatnya di sebelah tenggara desa induk Trunyan. Di sana juga dibuat sebuah Sema Bantas baru.

Baca juga: Kisah Misteri, Desa Gondo Mayit Kampung Hantu yang Meminta Nyawa

Baca juga: Mengulik Misteri Mariaban, Binatang Siluman dan Bulu Perindu Berkekuatan Magis

Lain lagi peruntukan di Sema Nguda. Tempat ini ialah pemakaman khusus bagi orang-orang yang berstatus belum menikah dan anak-anak meketus. Mereka semua dimakamkan secara Mepasah. Namun di sini juga jadi tempat penguburan bagi anak-anak bayi yang belum memasuki fase meketus dan dimakamkan dengan cara kubur tanah. Lokasi kompleks pemakaman terbilang susah dicapai karena pantainya curam, berada di antara desa induk Belongan Trunyan dan lokasi kompleks makam Sema Wayah.

selain itu orang Hindu-Trunyan sendiri memiliki dua upacara kematian: Ngutang Mayit dan Ngaben atau Pengabenan. Bagi mereka ritual Ngutang Mayit saja belumlah cukup. Pasalnya, jiwa atau roh si mati belum dapat dibebaskan sepenuhnya dari ikatan badan kasarnya. Si mati belum bisa menuju ke Dalem (dunia orang mati) untuk dari sana bereinkarnasi dan terlahir kembali di Trunyan. Oleh karena itu, kewajiban bagi keluarga ialah melakukan upacara kematian atau penyucian tahap kedua bagi mereka yang telah meninggal.

Menurut keyakinan eskatologis Hindu-Trunyan, bagi orang-orang yang dimakamkan di Sema Nguda, maka keluarga yang ditinggalkan tidak perlu mengadakan upacara Ngaben. Orang-orang yang belum menikah, teruna (bujangan) maupun debunga (perawan) dan anak-anak kecil yang telah masuk fase meketus maupun belum, dianggap masih suci. Mereka bisa serta merta kembali ke kawah (surga), tanpa harus disucikan kembali melalui Ngaben. Mereka ialah golongan yang disayangi Ratu Sakti Pancering Jagat, sehingga tidak perlu mengalami reinkarnasi lagi ke bumi (Trunyan).

Baca juga: Kisah Misteri, Desa Gondo Mayit Kampung Hantu yang Meminta Nyawa

Baca juga: Mengulik Misteri Mariaban, Binatang Siluman dan Bulu Perindu Berkekuatan Magis

Untuk keperluan ritual Pengabenan, dibuatlah lambang-lambang jenasah. Disebut prerai, ialah semacam representasi simbolik dari mereka yang hendak di-aben-kan. Bentuknya ialah boneka terbuat dari kayu cendana dan boneka terbuat daun lontar. Selain itu, juga dibuat alat pengangkutnya yang disebut wadah. Berbentuk sebuah bangunan bertingkat dua, diberi hiasan atau simbol kepala raksasa (kala) yang disebut boma. Prerai dari kayu cendana diletakkan pada wadah bagian tingkat atas; prerai dari daun lontar diletakkan pada wadah di bagian bawah.


Setelah melalui serangkaian ritual panjang sebagaimana pada sesi ritual Ngutang Mayit, maka prerai berbahan kayu cendana ini kemudian dibawa menuju ke Sema Wayah. Di sana prerai ini juga di-mepasah-kan, yang bermakna dia yang di-aben-kan ini telah dimakamkan kembali untuk kedua kalinya. Sedangkan prerai berbahan daun lontar dibawa pulang oleh keluarga masing-masing. Prerai ini kemudian diletakkan di bagian ruangan rumah yang disebut amben tengah untuk selalu didoakan di sana selama setahun.


Mitos lain juga mengatakan kalau mayat orang yang semasa hidupnya baik maka mayatnya akan cepat membusuk, demikian sedikit ulasan tentang Desa Trunyan yang bisa jadi referensi untuk untuk anda petualang misteri. (NN)

Tulisan diatas belum dipastikan kebenarannya dan pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari semua kejadian. Dimohon tidak mengikuti hal yang menyebabkan menyesatkan dan menimbulkan kerugian. Semua tulisan diatas sekedar fiksi belaka.


Editor: Ajeng
    Bagikan  

Berita Terkait