Mitos Perempuan Bahu Laweyan di Tanah Jawa

Keramat —Sabtu, 22 Jan 2022 11:09
    Bagikan  
Mitos Perempuan Bahu Laweyan di Tanah Jawa
foto istimewa/Nurlaila

INIHOROR,- Gerimis menyisakan sesak dan tangis perempuan 40 tahun. Sundari Namanya. Salah satu warga dusun di Desa kecil di Jawa Tengah. Suaminya meninggal dan detik ini sedang dimakamkan.

Tak alang hujan yang rintik ini juga menjadi saksi kejamnya para tetangga di tengah duka yang menggelayuti hatinya.

Mereka yang hadir mengucap belasungkawa dan ikut dalam mengantar almarhum Pak Condro menyelipkan desas-desus tentang kutukan Mbak Sundari yang merupakan perempuan bahu laweyan.

Satu jam sebelumnya ketika Karyo  dan Agus sedang membuat kuburan untuk almarhum, mereka berbincang tentang semakin kuatnya Mbak Sundari sebagai perempuan bahu laweyan yang sering dikatakan oleh orang-orang.

Salah satu kerabat Pak Condro bahkan mengutuk Sundari yang saat itu sedang hancur hatinya.  Bukan tanpa alasan, Pak Condro adalah duda anak satu yang menikah dengan Sundari. Seorang janda 3 kali dan menikah keempat kalinya dengan juragan beras itu.

Lagi-lagi Sundari yang mendengar bisik-bisik tetangga itu hanay bisa menyeka perlahan air mata yang menetes di pelepuk matanya yang mulai terlihat lipatan. Pilu memang, namun hal itu sudah pernah ia alami sebelumnya.

Beberapa saudara Pak Condro sudah memperingatkan dan melarang dirinya untuk menikah dengannya.  Tapi karena terpikat dengan kecantikan Sundari sebagai kembang desa sejak ia menjadi perawan, membuatnya mengubur desas-desus yang tak berdasar itu.

Baca juga: Kisah Rumah Tua dan Kain Hitam

Putri Pak Condro juga orang yang berpendidikan tinggi bekerja di ibu kota. Hanya ia satu-satunya anak yang seharusnya sangat peduli dengan ayahnya.

Namun kesibukan dan ketidak tahuanya tentang bahu laweyan membuatnya tak berpikir buruk dan senang jika di masa tua ayahnya memiliki seseorang yang menemaninya.

“nek wes kayak gini, mau nyalahin siapa wes?“ kata Agus menyayangkan kematian Pak Condro.

“Yow ndak ada yang salah.  Lagian gak ada bukti kok Mbak Sundari kui wedokan ngono kui, mati dan hidup kui udah ada yang ngatur. Kamu ni kayak gak punya agama aja to Gus,“ kata Karyo.

Mbak Sundari adalah wanita cantik yang sudah empat kali menikah.  Terakhir menikah dengan Pak Condro yang meninggal tanpa jelas penyebabnya. Baru 2 bulan pernikahan mereka, Pak Condro menghembuskan nafas terakhirnya. Katanya sih angin duduk.

Namun seperti juga suami keempatnya, suami pertama hingga ketiganya tak jauh berbeda dengan Pak Condro, mereka meninggal paling lama di usia pernikahan 1 tahun.

Menurut cerita Mbak Sundari adalah perempuan bahu laweyan.  Kata orang Jawa, artinya adalah wanita pembawa sial dan kutukan.  Setiap laki-laki yang menikahi perempuan bahu laweyan akan meninggal.  Konon sih dimangsa oleh mahluk yang bersemayam di perempuan bahu laweyan itu.

Mitosnya tubuh perempuan bahu laweyan dipinjam sebagai wadah oleh makhluk halus jahat yang ingin menguasainya. Karenanya, kalau ada yang mengawininya, makhluk halus ini tak rela dan membunuhnya.

Konon perbuatan keji makhluk itu akan berhenti setelah memangsa tujuh kali nyawa pasangan hidup perempuan bahu laweyan.

Baca juga: ‘Usik’, Iseng Berbuntut Ngeri

Biasanya masyarakat akan melihat tanda perempuan bahu laweyan jika sudah menikah tiga kali namun suaminya meninggal. Seperti Mbak Sundari yang sudah menikah tiga kali dan suaminya mengalami kejadian tragis.

Bahu laweyan memiliki ciri-ciri wanita raseksa atau memiliki tanda dua lingkaran di punggung kiri dan kanan yang disebut sujen pala, serta dua lingkaran di pantat kiri dan kanan atau sujen bokong.

Namun ada juga yang mengatakan ciri-ciri bahu laweyan memiliki tanda toh di bahu atau punggung. Tanda lain yang lebih mudah untuk dilihat yaitu toh coklat di kulit kepala yang menunjukkan gambar tertentu atau toh berwarna biru yang terdapat di alat kelamin.

Dan bagi orang yang memiliki kemampuan khusus, mereka juga bisa melihat tanda perempuan bahu laweyan dengan adanya benjolan atau tanda di bahu atau bagian kulit lainya yang memiliki bayangan ular.

“Husst jangan nggosip aja, buruan diberesin kerjaannya.  Sebentar lagi jenazah mau dating,“ kata Sutejo, seorang warga yang datang memeriksa seberapa jauh pekerjaan Agus dan Karyo.* -RESTY

(Tulisan di atas belum dipastikan kebenarannya.  Pembaca agar dapat mengambil hikmah dari semua kejadian.  Dimohon tidak mengikuti hal yang menyebabkan sesat dan menimbulkan kerugian.  Tulisan di atas sekedar fiksi belaka.)

Baca juga: Mitos Tentang Alas Purwo, Percaya Tidak Percaya?


Editor: Seni
    Bagikan  

Berita Terkait