Kenapa Tidak Boleh Asal Ucap Kata ‘Lada’ di Goa Jepang?

Keramat —Senin, 24 Jan 2022 10:26
    Bagikan  
Kenapa Tidak Boleh Asal Ucap Kata ‘Lada’ di Goa Jepang?
Goa Jepang

INIHOROR,-  Dingin, lembab dan gelap.  Suasana itu begitu terasa saat Tim Depost melangkahkan kaki menyusuri Goa Jepang yang terletak di Taman Hutan Raya Bandung.  Dengan berbekal 2 senter, kami dipandu seorang pemandu jalan yang menemani kami menyisiri area goa yang dibangun saat pemerintahan Jepang tahun 1942.

Suasana suram dan gelap mengiringi perjalanan kami, membuat kami tak ingin berjauh-jauhan ketika mengikuti Sumantri, pemandu tersebut.  Apalagi beberapa kelelawar yang menggantung di atap-atap goa sesekali berterbangan membuat kami terkejut dan perlu waspada.

Goa Jepang dibangun oleh pemimpin Jepang bernama Hitosi Simamura.  Jepang menjadikan gua itu sebagai gudang amunisi dan logistik juga sebagai markas besar tentara Jepang. Kami pun menyusuri perlahan lorong sepanjang 800 meter yang terdiri dari 3 lorong dan 2 ventilasi.  Goa Jepang ini memiliki 4 pintu utama, namun pintu kedua tidak tersambung keluar karena belum terselesaikan.

Goa Jepang dibangun saat masa Romusha atau kerjapaksa oleh tentara Jepang, membuat beberapa mitos kejadian di gua ini, seperti penyiksaan pekerja atau meninggalnya para prajurit yang konon terjadi di sini.

Baca juga: “Teluh”, Arwah Penasaran Balas Dendam

Baca juga: Buku yang Menjadi Abu

Penampakan-penampakan tak jarang dialami di lokasi Goa Jepang ini, apalagi bagi mereka yang sengaja datang untuk menguji nyali mereka. Bahkan diantaranya ada yang menyerah karena kehadiran sosok tak diinginkan.

Selain itu ada sebuah mitos yang berkembang luas di kalangan masyarakat jika di goa Ini kita tidak boleh menyebutkan kata “Lada”, mitosnya jika hal itu dilanggar maka, katanya, sesuatu yang buruk akan terjadi atau akan mengundang mahluk halus untuk datang.

Sementara itu menurut Sumantri yang sudah sejak tahun 1985 menjadi pemandu Goa Jepang ini, “Lada” merupakan nama orang  bijaksana yang kini oleh warga sekitar dipanggil dengan sebutan “Haneut”, sebagai jasa leluhur warga sekitar untuk menghormati jasa-jasa mereka.

Oleh sebab itulah jika memasuki wilayah Kampung Pakar tidak boleh menyebut kata “Lada”.

Baca juga: “Teluh”, Arwah Penasaran Balas Dendam

Baca juga: Buku yang Menjadi Abu

“Seperti orang yang bertamu ke rumah orang, kita harus menghormati tuan rumah, dan bertindak sopan,” tutur Sumantri.

Namun berbeda lagi dengan orang yang sengaja iseng dan menantang dengan menyebut kata “Lada” sembarangan, apalagi di dalam goa untuk sengaja membuktikan apakah hal itu benar.  Tak jarang mereka mengalami hal-hal tak terduga, seperti sulit menemukan jalan ke luar dari goa.

Sudah sepantasnya jika kita mengetahui hal-hal yang dilarang cukup tahu dan menghormati apa yang sudah menjadi kepercayaan di daerah tersebut.* -RESTY

(Tulisan di atas belum dipastikan kebenarannya.  Pembaca agar dapat mengambil hikmah dari semua kejadian.  Dimohon tidak mengikuti hal yang menyebabkan sesat dan menimbulkan kerugian.)

Baca juga: “Teluh”, Arwah Penasaran Balas Dendam

Baca juga: Buku yang Menjadi Abu


Editor: Seni
    Bagikan  

Berita Terkait